Tentang Cara Sukses Sebuah Usaha
Bismillahirrahmanirrahim,
Tulisan ini disadur dari sebuah presentasi berbahasa inggris, yang berjudul Corporate Lesson. Saya yakin dalam tulisan ini mengandung kesalahan yang mungkin saya pun tidak tahu dimana itu. Jadi mohon maaf jika nanti anda menemukan kesalahan dalam tulisan ini.
Sukses, mungkin ini adalah sebuah hal yang diinginkan oleh semua orang. Sukses yang dimaksud disini adalah sangat luas, bisa sukses dalam berusaha, sukses dalam mencari ilmu, sukses dalam berperang, dll. Bagaimana cara kita jika ingin sukses?. Itu mudah sekali cukup belajar dari perjuangan orang yang ingin sukses dan yang telah sukses dan jangan pernah putus asa jika kamu gagal dalam mencapai kesuksesan itu.
Belajar dari perjuangan orang yang telah sukses, saya mempunyai sebuah pelajaran dari orang yang telah sukses itu. Orang itu menuangkannya dalam sebuah presentasi dan presentasi itu diberi judul Corporate Lesson.
Cara sukses dalam presentasi itu diumpamakan anatara seekor burung dengan kelinci. Si kelinci itu merasa ingin seperti burung yang pekerjaannya hanya duduk-duduk di dahan pohon. Si burung pun memperbolehkan si kelinci untuk seperti dirinya, asal duduknya di bawah karena tak mungkin bisa naik ke dahan. Dan apa yang terjadi? Si kelinci pun dimakan oleh si serigala, karena si kelinci tidak melakukan apa-apa hanya duduk di bawah pohon.
Pelajaran yang bisa kita ambil cerita itu adalah jika kita ingin bermalas-malasan duduklah di tempat yang sangat sangat tinggi yang tidak mungkin terkejar orag lain. Tapi jika kamu merasa kamu belum mencapai tempat tertinggi itu, janganlah sekalipun kamu bermalas-malasan. Jika kamu bermalas-malasan, maka pasti kamu akan dimangsa oleh orang lain yang berkepentingan dan kamu tidak akan menjadi apa-apa.
Cerita Kedua, suatu ketika diadakan perlombaan memanjat antar-katak sedunia. Para katak itu harus memanjat sebuah tower yang tinggi dengan meloncat-loncat. Hampir semua penonton yang ada disana pesimis akan ada katak yang bisa sampai ke puncak.
Di mulailah lomba itu, satu persatu katak peserta lomba berjatuhan dan tak sanggup melanjutkan lomba. Makin lama makin sedikit, dan penonton pun mulai yakin bahwa tak akan ada yang bisa sampai ke puncak. Tapi masih ada satu katak yang terus meloncat dan berusaha sekuat tenaga agar dia bisa mencapai puncak tower. Benar saja, walau dengan susah payah akhirnya katak yang satu ini bisa mencapai puncak tower & menjadi pemenang lomba.
Setelah selesai lomba, si katak itu ditanya oleh para penonton, apa yang menyebabkan ia bisa mencapai puncak?. Pertanyaan itu tidak dijawab oleh sang katak pemenang, dia hanya kebingungan seperti ia tidak bisa mendengar pertanyaan penonton. Setelah diselidiki ternyata katak itu tuli, ia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh penonton.
Pelajaran yang bisa diambil dari cerita kedua, agar anda bisa mencapai puncak, kamu jangan mendengar ocehan orang lain yang akan membuat mentalmu kalah sebelum bertanding jika ingin mencapai sebuah kesuksesan. Kamu harus yakin bahwa itu bisa, dan pasti bisa. Apapun jalannya dan apapun caranya, pasti bisa untuk mencapai kesuksesan itu.
Wassalam,
InspirasiDegun feat Dede Gunawan.
Burung, Kuda, Kucing
Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji hanyalah milik Allah, sholawat salam semoga tercurah selamanya kepada Rasulullah Saw. Semoga kita semua ada dalam ridho dan maghfiroh Allah. Amiin.
Menggunakan Nomorator Di CorelDraw
Bismillahirrahmanirrahim,
Menggunakan Nomorator Di Corel Draw
Bagi anda yang sudah lama berkecimpung dalam dunia percetakan mungkin sudah paham apa yang dinamakan dengan nomorator. Nomorator adalah sebuah mesin yang khusus digunakan untuk menomori kertas, misal untuk nota, kupon, atau faktur. Bagi percetakan-percetakan kecil yang tidak mempunyai nomorator sendiri, biasanya mereka menggunakan jasa percetakan lain untuk menomori cetakannya.
Mungkin ini tidak menjadi masalah ketika percetakan yang mempunyai nomorator itu sedang tidak sibuk menomori cetakan mereka. Menjadi masalah ketika nomorator di percetakan yang sering kita gunakan jasanya itu sedang penuh dan sibuk. Ini biasanya terjadi pada saat-saat akan menghadapi hari raya lebaran dan tahun baru. Itu dialami saya sebagai penulis. Saya biasanya menggunakan nomorator manual untuk menomori cetakan saya itu. Tapi lama kelamaan saya menjadi bosan menggunakan nomorator manual itu.
Akhirnya saya memutuskan untuk mencari di internet tentang inovasi nomorator dan akhirnya saya menemukan cara yang cukup bagus dan efektif. Cara ini menggunakan software Ms. Excel dan Corel Draw. Adapun alat yang harus anda punya cukuplah sebuah printer yang berfungsi sebagai nomorator. Untuk lebih jelasnya bagaimana cara menggunakan nomorator mari kita simak tulisan dibawah ini.
Konsep dasar yang digunakan dalam program nomorator otomatis konsep Print Merge milik Corel Draw. Konsep print merge ini memungkinkan kita untuk menggabungkan file (bekstensi *.txt, *.csv, *.rtf) dengan Corel Draw untuk di print.
Untuk memulainya, pertama kali anda harus membuat sebuah data base sederhana menggunakan Ms. Excel, yang kemudian nanti akan disimpan ke dalam format *.txt. Contoh :
01-05 | 06-10 | 11-15 |
001 | 006 | 011 |
002 | 007 | 012 |
003 | 008 | 013 |
004 | 009 | 014 |
005 | 010 | 015 |
Kemudian tabel itu simpan ke dalam *.txt (tab delimited).
Setelah itu buka program Corel Draw anda, kemudian buat halaman baru. Pilih menu File > Print Merge > Create/Load Merge Fields. Kemudian akan muncul wizard. Pilih import text from file,Iklik Next, lalu pilih File dan klik gambar folder untuk mengambil file *.txt-nya. Klik Next dan ikuti sampai selesai. Maka akan muncul gambar seperti dibawah ini.

Keterangan :
- Edit Fields, digunakan untuk mengedit data yang ingin anda gabungkan.
- Print, digunakan jika kita ingin langsung mencetak hasil gabungan.
- Merge to New Document, digunakan jika kita ingin menampilkan hasil merge pada dokumen baru.
- Field, itu adalah nomor yang harus anda masukkan menggunakan menu insert yang ada disebelahnya.
Tambahan : anda bisa berlatih sendiri menggunakan kreatifitas anda, karena percuma saja anda mengetahui sebuah ilmu jika anda tidak pernah mau untuk berlatih menggunakannya.
Wassalam,
Acep Zam Zam Noor
1. Tamparlah Muka (1982),
2. Aku Kini Doa (1986),
. Kasidah Sunyi (1989), 4. Dayeuh Matapoe (puisi Sunda, 1993), 5. Dari Kota Hujan (1996), 6. Di Luar Kota (1996), 7. Di Atas Umbria (1999), 8. Dongeng dari Negeri Sembako (2001), 9. Jalan Menuju Rumahku (2004). Selain kumpulan buku puisi yang telah diterbitkan, karya puisi Acep juga ada yang pernah dimuat dalam majalah sastra dan jurnal. Mulai dari majalah Horison, Kalam, Ulumul Qur’an, Jurnal Puisi, sampai dengan Dewan Sastra Jurnal Puisi Melayu (Malaysia) dan Perisa. Beberapa karya puisinya juga telah dimuat dalam beberapa antologi, seperti: 1. Antologi Puisi Indonesia Modern Tonggak IV (Gramedia, 1987), 2. Dari Negeri Poci II (Tiara, 1994), 3. Ketika Kata Ketika Warna (Yayasan Ananda, 1995), 4. Takbir Para Penyair (Festival Istiqal, 1995), 5. Negeri Bayang-Bayang (Festival Surabaya, 1996), 6. Cermin Alam (Taman Budaya Jabar, 1996), 7. Utan Kayu: Tafsir dalam Permainan (Kalam, 1998), 8. Angkatan 2000 (Gramedia, 2001), 9. Dari fansuri ke Handayani (Horison, 2001), 10. Horison Sastra Indonesia (Horison, 2002), dan 11. Napas Gunung (Dewan Kesenian Jakarta, 2004). Selain karya puisi yang dibuat bertema religius dan sosial, Acep Zam Zam Noor juga membuat puisi-puisi cinta yang romantis. Buku puisinya yang berjudul Menjadi Penyair lagi (Penerbit Pustala Azan, 2007), boleh dianggap mewakili tren “puisi romantis”. Antologi ini dibagi dalam dua kelompok. Kelompok 1 menampung puisi lama (1978—1989) yang kata Acep “sempat tercecer dan terlupakan” selama ini. Sebagian lagi berisi puisi-puisi barunya (1990—2006) Karena kepiawaiannya juga, karya puisi Acep Zam Zam Noor telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris yang dimuat dalam The Poets Chant (Jakarta, 1995), In Words in Colour (Jakarta, 1995), A Bonsai’s Morning (Bali, 1996), serta diterjemahjan oleh Harry Aveling untuk Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1996—1998 (Ohio University Press, 2001) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda serta telah dimuat dalam Toekomstdromen (Amsterdam, 2004). Puisi-puisi Sundanya juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Ayip Rosidi dan Wendy Mukherjee untuk Modern Sundanese Poetry: Voices from West Java (Pustaka Jaya, 2001), dan ke dala, bahasa Perancis oleh Ayip Rosidi dan Henry Chambert Loir untuk Poemes Soundanais: Antologie Bilingue (Pustaka Jaya, 2001). Di samping menulis puisi, Acep Zam Zam Noor sampai sekarang masih aktif ikut dalam pameran lukisan, baik di dalam maupun luar negeri, seperti ke Singapura, Filipina, Belanda, dan Malaysia. Penghargaan Karena dedikasi dan prestasinya dalam kegiatan menulis puisi, Acep Zam Zam Noor, pernah mendapat hadiah atau penghargaan sastra. Antara lain, Hadiah Sastra Lembaga Bahasa Jeung Sunda untuk puisi Sunda pada tahun 1991 dan 1993. Tahun 1994, nominator hadiah Rancange untuk Dayeuh Matapoe. Penghargaan penulisan karya sastra dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional untuk karya Di Luar Kata tahun 2001. Penghargaan penulisan karya sastra dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional tahun 2005 untuk karya Jalan Menuju Rumahmu dan The Sea Write Awards tahun 2005 untuk karya Jalan Menuju Rumahmu.
A. A. Navis
a. Cerita Pendek
(1) Robohnya Surau Kami (kumpulan cerpen), Jakarta. Gramedia, 1986
(2) Hujan Panas dan Kabut Musim (kumpulan cerpen), Jakarta: Jambatan, 1990
(3) “Cerita Tiga Malam”, Roman, Thn. V, No.3, 1958:25--26
(4) “Terasing”,Aneka, Thn. VII, No. 33, 1956:12--13
(5) “Cinta Buta”, Roman, Thn. IV, No. 3, 1957
(6) “Man Rabuka”, Siasat, Thn. XI, No. 542, 1957:14--15
(7) “Tiada Membawa Nyawa”, Waktu, Thn. XIV, No.5, 1961
(8) “Perebutan”,. Star Weekly, Thu. XVI, No. 807, 1961
(9) “Jodoh”, Kompas, Thu. Xl, No. 236, 6 April 1976:6
b. Puisi Dermaga dengan Empat Sekoci (kumpulan 34 puisi), Bukittinggi: Nusantara.
c. Novel
(1) Kemarau, Jakarta: GrasIndo, 1992
(2) Saraswati Si Gadis dalam Sunyi, Jakarta: Pradnya Paramita, 1970.
d. Karya Non Fiksi
(1) “Surat-Surat Drama”, Budaya, Thn.X, Januari-Februari 1961
(2) “Hamka Sebagai Pengarang Roman”, Berita Bibliografi, Thn.X, No.2, Juni 1964
(3) “Warna Lokal dalam Novel Minangkabau”, Sinar Harapan, 16 Mel 1981
(4) “Memadukan Kawasan dengan Karya Sastra.”, Suara Karya, 1978
(5) “Kepenulisan Belum Bisa Diandalkan Sebagai Ladang Hidup”, Suara Pembaruan, 1989
(6) “Menelaah Orang Minangkabau dari Novel Indonesia Modern”, Bahasa dan Sastra, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1977
e. Hadiah dan Penghargaan
(1) Hadiah kedua lomba cerpen majalah Kisah (1955) untuk cerpen “Robohnya Surau Kami”.
(2) Penghargaan dari UNESCO (1967) untuk kumpulan cerpen Saraswati dalam Sunyi. (3) Hadiah dari Kincir Emas (1975) untuk cerpen “Jodoh”. (4) Hadiah dari majalah Femina (1978) untuk cerpen “Kawin”. (5) “Hadiah Seni” dari Depdikbud (1988) untuk novel Kemarau. (6) SEA Write Awards (1992) dari Pusat Bahasa (bekerja sama dengan Kerajaan Thailand).
